Gak cuma shampo atau jalan protokol di kota besar yang nawarin paket 3 in 1, tapi juga handphone alias HP. Alat komunikasi yang banyak dipakai oleh remaja bahkan anak-anak ini makin lama makin canggih. Pertumbuhan dan perkembangan teknologi handphone kayaknya emang nggak pernah capek dan nggak mau capek. Nggak cuma desainnya yang digeber pol-polan tapi juga teknologinya. Fitur yang makin lama makin lebay pun sepertinya nggak cukup buat memuaskan keinginan para pemakai atau mungkin juga para pembuat HP itu sendiri.
Kebutuhan manusia nelpon, ngobrol, curhat, pacaran atau bahkan bisnis, bermacam-macam banget. Nggak mungkin semua kartunya sama. Mereka semua bisa milih sesuka hati, mau pake kartu apa. Dan akhirnya yang menjadi kelemahan (sengaja atau nggak disengaja) biaya telpon ke lintas provider malah jauh lebih mahal dibanding sesama network, GSM ke GSM misalnya.
Fenomena ini yang akhirnya coba diatasi oleh para pemikir dan kreator yang kerjanya di industri HP di seluruh dunia. Mereka mencari terobosan gimana bisa nelpon ke temen yang kartu atau SIM card-nya sama, tapi juga punya kartu lainnya yang nomornya beda, sama satu lagi, punya kartu CDMA juga. Gokil banget kan? Masa sih satu orang perlu tiga nomor dan nyala semuanya. Wah pastinya lebih sibuk dari manajernya artis kelas dunia kayak Justin Bieber.
Pastinya kalo akhirnya para vendor merilis HP yang bisa diisi sampe 3 kartu, mereka punya alasan yang bagus dan secara bisnis menguntungkan. Buat penduduk Indonesia yang jumlahnya ratusan juta dengan budaya ngobrol yang masih tinggi pastinya menjadi pangsa pasar yang potensial. HP dengan fitur-fitur dahsyatnya bisa ditekan harganya sampe bisa dijangkau masyarakat umum.
China sebagai negara yang penduduknya banyak dan jago meniru hampir semua produk, pastinya nggak akan tinggal diam. Mereka gak kurang pengalaman bikin barang-barang hi tech dengan harga low price alias murah. Mulai dari makanan, minuman, mainan, pakaian, elektronik bahkan sampe alat berat. So kalo sekedar bikin HP yang paling dipengenin banyak orang, tinggal bilang, seterusnya mereka (para ahli dari China) yang kerja.